Huyeh!
Satu dua satu dua dua dua dua dua dua dua dua.. *lha? kapan ‘tiga’ nya?*
Hehehe..
Hari minggu kemarin, gue melancarkan misi terhormat gue, yaitu lari!
Iya. Setelah setahun gue ngga lari keliling stadion di kampus, akhirnya gue kembali mencoba melakukan kegiatan paling sehat tapi ga sehat.. lho lho lho?
Yes. Sehat karena berkeringat, ga sehatnya itu besok pagi kaki gue gempor pegel pegel ampe ga bisa jongkok dan menderita kalau naek anak tangga!
Hahaha… ceritanya gue melancarkan misi ini karena teringat mata kuliah statistik, dosen gue itu membahas tentang olahraga. Jadi dia bercerita, menurut seorang temannya yang ahli di bidang olahraga, bahwa olahraga yang baik dan sehat itu cukup 40 menit saja. Mau lari kek, mau senam kek, mau renang kek, mau jalan-jalan jogging kek, yang penting gerak selama 40 menit. Maka sejak itu gue bertekad ingin mencoba untuk mengubah gaya hidup gue yang sebenarnya tadinya sehat lalu tidak sehat lalu akan gue ubah kembali menjadi sehat. Ihihii.
Nah, misi gue itu baru bisa direalisasikan sekarang dengan perjuangan serta tekad yang amat kuat dan bulat-bulat *gue bulet-buletin aja biar lucu kayak baso, wehehe*.
Ya, gue menyadari betapa malasnya gue sekarang untuk meluangkan sedikit waktu untuk olahraga. Meski untuk lari doang! Padahal waktu gue dulu tinggal di Freiberg, gue selalu naik sepeda setelah pulang sekolah. Berpetualang bersama adik gue. Kalau mau take a trip ke luar kota hanya bermodal sepeda dan ransel doang dan naik kereta lalu jalan kaki menelusuri kota yang gue kunjungi! Sekarang? Jalan kaki dari gerbang pintu kampus ke lantai 5 doang udah ngos-ngosan mengeluh betapa capek dan panas!
Nah, mungkin salah satu faktor lain selain malas yaitu faktor cuaca! Gue pernah baca sebuah buku berjudul The Naked Traveler written by Trinity, bahwa cuaca di negara Indonesia yang kebanyakan panas dengan iklimnya yang tropis membuat sebagian besar orang-orang menjadi malas, ramah, dan lamban! Beda dengan di negara lain yang ‘punya’ 4 musim. Mereka itu gesit, rajin dan memang agak sedikit kurang ramah karena cuaca yang dingin! Kenapa?
Begini, kalau di tempat yang panas, kita ngga mau jalan cepat-cepat karena bisa cepat berkeringat dan kepanasan makanya kita lebih memilih jalan lambat atau naik mobil atau naik kendaraan lainnya yang menyebabkan malas beraktifitas. Kalau di tempat yang bersuhu dingin, orang akan jalan dengan cepat karena ngga mau mati kedinginan, makanya mereka gesit. Meski cuaca yang tidak bersahabat tersebut membatasi kegiatan mereka, tapi mereka berpikir lebih kreatif bagaimana bisa tetap beraktifitas meski dengan kondisi iklim tersebut sehingga otak mereka dipacu untuk memikirkan sesuatu yang innovatif dan kreatif. Nah, gue yang memang mengalami dua iklim tersebut menyadari perbedaan itu! Percaya atau tidak? Rasakan saja sendiri, coba jalan-jalan atau liburan ke dua tempat dengan iklim yang seperti gue jelaskan.
Jadi, biar gue semangat, gue tambahin niatnya yaitu sambil hunting foto, lalu ngajakin teman-teman gue biar mereka langsing kayak gue.. huahahahahaaaa…!
Sip, gue datang pagi dengan semangat yang menggebu-gebu dan laporan sama mamah bahwa gue mau lari yang ‘bener’ makanya lari-nya di stadion di kampus. Stop watch sudah gue atur: 40 menit saja. Playlist di hape gue udah siap dengan lagu-lagu yang beat up biar semangat. Pokoknya pol deh persiapan gue. Hehe.
10 menit pertama. Gue masih semangat lari dengan teknik melangkah yang diajarin guru olahraga SMP gue biar kaki ngga pegel dan kepala ngga pusing. Jadi, saat berpijak, yang dipijakkan itu bagian jari kaki saja terlebih dahulu baru telapak kaki, sebagian besar orang memijakkan seluruh bagian telapak kaki dengan sekaligus, padahal itu menyebabkan tekanan yang keras yang bisa membuat kepala kita pusing. Hey, di bagian kaki kan ada syaraf yang berujung di kepala jadi bisa menyebabkan sakit kepala kalau salah ‘menggunakan’ telapak kaki. (seingat gue sih begitu waktu belajar biologi dan diceramahi guru olahraga itu, hehe)
10 menit kemudian. Udah ga keliatan lagi track-nya. Bujugggg. Gue kagak mau pingsan! Jadi gue berhenti dan memutuskan untuk jalan pelan-pelan dulu saja sambil motret dikit-dikit. Gila. Ngga biasanya gue kayak gini.
Gue pikirin, selain karena belum biasa lagi, apa yang salah sama badan gue ya? Gue coba lari lagi, berhenti lagi, jalan lagi, lari lagi, jalan lagi. Gitu aja terus selama 20 menit.
20 menit kemudian, gue coba cara baru, yaitu.. gue lari sambil nunduk ngga lihat ke depan dan fokus melihat langkah gue! Hehehe. Cara ini ternyata ampuh. Ngga. Ngga akan nubruk orang yang lari di depan kita kok. Sesekali lihat ke depan juga. Sumpah beneran gue serius berani dikasih iPOD nano deh kalau salah, cara itu beneran ampuh dan gue bisa lari full ngelilingi stadion tanpa berhenti atau jalan kaki!
Nah, gue pernah denger lagu, baca novel, baca puisi, ada beberapa potongan kalimat yang bunyinya: run and catch what you’ve dreamed so long..
Gue lupa, ya pokoknya kejarlah mimpimu, begitu deh kira-kira!
Kejar. Kalau kata ‘kejar’ berarti kan berjalan atau berlari kan?
Mimpi. Mimpi itu sesuatu yang diinginkan tergantung seberapa kuatnya orang menginginkan sesuatu tersebut. Jadi, bisa disinonimkan juga sebagai cita-cita. Sesuatu yang ingin kita raih.
Lha apa hubungannnya sama lari?
Coba deh pikirkan, gue lari ingin cepat-cepat beres sampe di finish line. Ingin lari selama 40 menit! Itu cita-cita gue saat lari. Ingin cepet-cepet sampe tujuan! Begitu juga dengan mengejar cita-cita, makanya kalau orang punya impian maka para ‘penasihat’ pasti akan berkata ‘lari kejarlah cita-citamu’. Nah, cara meraih impian itu kira-kira hampir seperti cara gue lari pas 20 menit terakhir itu.
Lihat ke depan. Sama halnya dengan melihat tujuan. Saat berlari, perhatikan tracknya, perhatikan langkah saat berlari dan bukan berlari dengan tatapan tertuju ke depan. Lihatlah pijakan dan cara berpijak.
Mengapa?
Karena dengan cara berlari dengan terus menatap ke depan tanpa memperhatikan langkah sendiri saat berlari akan terasa lebih melelahkan dan kita akan cepat patah semangat!
Coba dengan fokus pada apa yang dijalani, dengan langkah itu sendiri. Jadi, anggaplah track yang dipijak merupakan masa kini alias the present day masa saat berusaha agar bisa menggapai cita-cita. Tidak akan terasa melelahkan, jusru kita akan lebih menikmatnya dan mungkin tidak akan mudah putus asa.
Jangan lihat ke belakang terus! Jelas akan jatuh. Bolehlah sesekali melihat ke belakang, untuk tahu seberapa jauh melangkah, seperti apa usaha yang dikerahkan, lalu lihatlah ke depan untuk tahu seberapa jauh lagi dan kembali menatap track yang dipijak agar menyusun strategi yang harus dilakukan untuk mencapai finish line.
Begitulah kira-kira yang bisa gue analogikan bagaimana sebaiknya menggapai cita-cita *ya gue nasihatin gue sendiri sih sebenarnya*.
Mengapa orang-orang berkata ‘lari, kejarlah dan gapai tujuanmu’? Karena ada sebuah esensi yang sama saat orang benar-benar berlari *lari dengan cara yang benar* dengan saat orang berusaha mewujudkan cita-cita, ada suatu trik berlari yang memang berguna ketika ingin meraih tujuan. Hal ini benar-benar tidak sengaja terlintas di benak gue saat gue berlari dengan trik seperti itu.
Yeah, mungkin sebelum gue, trik berlari ini is already discovered by others, tapi gue ngga merasa ketinggalan karena gue menemukannya sendiri.

abis lari narsis...ooh betapa kucelnya gue.. haha..