Pada suatu hari di tahun 2009 ada seorang pria yang menurut semua orang sempurna.
Lihatlah tampangnya yang menawan.
Lihatlah kemurahan hatinya.
Lihatlah kecerdasannya.
Lihatlah ia mampu untuk segera meminang gadis manapun yang ia suka.
Lihatlah sopan santun yang ia miliki.
Ia sempurna.
Bagi wanita mana pun.
Bahkan orang tua pun akan jatuh hati padanya.
Pria itu datang tiba-tiba memasuki jendela kehidupan seorang perempuan.
Katakanlah perempuan itu biasa saja.
Perempuan itu tidaklah menawan.
Perempuan itu tidaklah secerdas dia.
Perempuan itu masih kekanak-kanakan.
Perempuan itu.. jauh dari kata sempurna.
Perempuan itu tahu pria itu sempurna.
Memang. Di matanya pun sempurna.
Tapi. Hatinya tidak berkata yang sama.
Hatinya tidak berkata itu sempurna,
karena..
perempuan itu bukan tempat untuk berlari
bukan tempat untuk mencari kesenangan
bukan orang yang bisa membuat pria itu melupakan orang yang pernah pria itu cintai
Perempuan itu bukan pelarian.
Perempuan itu tahu bahwa kebahagiaan yang digenggam pria itu di tangannya
bukan untuk perempuan itu, tapi untuk perempuan yang benar-benar dicintai pria itu
dan itu… bukan sang perempuan itu..
Pada pria itu pun dia tidak bisa merasakan cinta seperti yang telah kamu tanam
Perempuan itu tidak pernah merasa sesak atau gemetar kala pria itu tak datang
Perempuan itu tak pernah dan tak bisa menangis untuk merindukan pria itu
Tidak.
Perempuan itu tidak bisa.
Perempuan itu tetap mencintaimu
Kau lebih mampu menjadikan perempuan itu sebagai dirinya sendiri
Meski dia pernah membuatmu terpukul
Perempuan itu tahu ternyata yang pernah ia perbuat itu menyakitkan orang yang sebenarnya ia cintai
Dia lebih tahu.
Hatinya ternyata, jauh hari saat kau pertama kali melihat perempuan itu, telah berkata bahwa kaulah yang sempurna.
Kapanpun saat ia akan memejamkan matanya, perempuan itu selalu memutar memori saat ia bertemu denganmu untuk pertama kalinya.
Sangat menyenangkan. Sangat sederhana. Sangat dalam.
Perempuan itu tidak perlu berpikir rumit untuk jatuh cinta padamu.
Setiap bagian memori masa lalu selalu ia kenang,
Untuk mengingatkannya ternyata yang lebih ia cintai itu kau.
Ingatkah perempuan yang selalu berdiri di depan jendela kelasmu?
Aku adalah perempuan itu.
Meski begini tetap mencintaimu.
Kau tidak perlu ragu tentang mawar dan api yang kau titipkan pada perempuan itu.
Dia tetap berjuang menjaga mawar dan api yang kau percayakan padanya.
Hatinya berkata bahwa kaulah sempurna.
Tak perlu menjadi sempurna di mata, cukup di hati pun tak mengapa.
Kau ingin perempuan itu percaya, maka percayalah pada perempuan itu juga.
Surat untukmu,
untuk A.S.


::: mengharukan…
::: manis sekali ….
::: jujur dan sarat penghambaan…
::: tanpa mengharap balas…
::: tak meminta namun berharap…
::: sendu tapi menenangkan….
memang tak perlu mencari yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan….
adem bacanya.
mana lanjutannya ini blog… hehehehe