Semester 7 sudah berakhir dengan sedikit tragis karena ternyata nilainya… oooh tidaaaaaaak… unbelievable..!! >.<
Menginjak semester 8 saya deg-degan sekaliiii…
Meski proposal sudah benar-benar jadi tapi masih ada bagian-bagian yang mengganjal motivasi saya untuk tancap gas.
Satu-satunya pengganjal adalah.. IPK.. saya tahu saya terlalu worried tentang angka-angka karena… siapa sih yang ngga tergiur oleh hebatnya angka 4,0 atau 3,5 untuk angka IPK yang (mungkin) akan disebutkan dengan lantang saat togamu dipasang?
Nah.. bagaimana dengan saya???
Saya bingung mau nyalahin siapa dan ternyata mungkin tidak ada yang harus disalahin yah.
Kita hidup terlalu takut oleh pendapat orang-orang di sekitar. Sadar atau tidak sadar ternyata iya.
Saya jadi teringat konsep Marxism (lagi) tentang postingan sebelumnya yaitu essay yang membahas karyanya Mark Twain, bahwa ternyata UANG DAN KASTA adalah dua hal yang worrying orang-orang di dunia ini.
Ayo, mengaku! Sedikitnya perasaan itu pernah ada, pikiran tentang hal itu pernah terlintas melewati rel pikiran. Iya kan? Iya?
Buktinya sekarang banyak sekali kasus korupsi di Indonesia.
Sederhana saja penyebabnya: Takut disebut orang miskin.
Ada yang salah dengan miskin? miskin apa? miskin uang? miskin ilmu? miskin kebahagiaan? Kayaknya sih miskin uang. Kan kalau miskin uang akan terjadi seperti pada cerita Mark Twain yang Bank Note itu: miskin = ga dihargai orang. Lah kalau begitu apa pentingnya sih kalau udah dihargai orang? Hmm..
Yaaa kira-kira begitu. Jadi saya harus pasrah aja atau gimana yah?
Di satu sisi saya percaya dan termotivasi oleh support orang-orang yang beranggapan bahwa ‘IPK’ tidak menentukan nasib sepenuhnya dan bukan segala-galanya. Di satu sisi saya tetap takut akan mengecewakan orang tua kalau saya ternyata tidak serius menjalani semuanya. Padahal saya ingin membuktikan kalau kuliah di Sastra itu bisa sama hebatnya dengan kuliah di jurusan-jurusan notabene lainnya kok. #jdug jdugin kepala
Hmm benar-benar yah. Saya ingin tahu siapa penyebab semua ini yang memberikan ‘doktrin’ tentang angka sehingga orang-orang punya ‘kepercayaan’ kaku seperti itu (termasuk saya, mudah-mudahan sedikit). Saya juga jadi inget cerita di novel Hard Times karya Charles Dickens. Di dalam ceritanya (oke saya kasih bocoran sedikit) sekelompok orang percaya bahwa perbedaan usia menunjukkan kesuksesan pernikahan dan di dalam cerita tersebut… ditunjukkan dengan data statistik yang (ceritanya sih) mendukung pendapat tersebut. Nah lho lagi-lagi angka.
Jadi sehabis kuliah saya mau kemana dan mau ngapain ????
Pilihannya adalah:
1. Kuliah S1 (lagi) mengambil jurusan yang mendukung skill, Farmasi atau Pariwisata atau Komunikasi?
2. Kerja di redaksi majalah yang saya idam-idamkan
3. Kuliah S2 ambil program sastra (lagi), ini saya suka tapi… ada batasan IPK yaaa… -,-’
4. Latihan menerjemahkan (ini sih bisa dilakukan sekaligus dengan 3 piilihan di atas) agar bisa jadi certified translator (amiin amiin..)
Aaaaah pada akhirnya: berdo’a saja mudah-mudahan kedua orang tua tidak begitu concern atau worried dengan angka brutal itu, kemudian para dosen pembimbing serta penguji diberi kemurahan hati mencentang angka brutal itu menjadi lebih baik. Besok saya mau tes toefl. Mudah-mudahan tembus. Oh iya tesnya di ITB lho, dulu kan SPMB di ITB juga, yaaa mudah-mudahan lulus juga. Hehehe. :p

wih inspiratif!
betul juga, angka membuat orang takut!
angka juga identik dengan tingkat kepintaran seseorang bukan yah ? ^_^ hihihihi
nice sob